Serangan Israel ke Iran Guncang Logistik dan Fiskal, Arief R Pabettingi: Pemerintah Harus Siapkan APBN sebagai Shock Absorber

PHINISIMEDIA.COM, MAKASSAR – Serangan militer Israel ke Iran pada 27 Februari 2026 memicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap sektor logistik, ekspor, serta fiskal Indonesia.

Wakil Ketua Umum DPP ALFI/ILFA Bidang Fiskal dan Kepabeanan, Arief R. Pabettingi, menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan regional, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas rantai pasok global dan daya saing ekspor nasional.

Dalam analisisnya berjudul
“Dampak Serangan Israel ke Iran dari Sisi Ekspor Logistik dan Fiskal”, Arief menjelaskan bahwa Timur Tengah merupakan pusat energi dunia. Setiap gangguan di kawasan ini hampir selalu memicu lonjakan harga minyak mentah dan energi global.

“Kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada biaya produksi dan transportasi. Ini berimbas pada meningkatnya harga barang ekspor, termasuk dari Indonesia, sehingga daya saingnya di pasar global bisa melemah,” ujar Arief.

Jalur Logistik Terancam
Arief menyoroti potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis pengiriman sekitar 20 persen minyak dunia. Jika konflik meluas, jalur tersebut berisiko terganggu dan memaksa kapal mengalihkan rute melalui Terusan Suez atau Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Perubahan rute tersebut, lanjutnya, akan menambah waktu tempuh, meningkatkan konsumsi bahan bakar, serta memicu kenaikan premi asuransi kargo. Dampaknya bukan hanya pada biaya logistik, tetapi juga potensi keterlambatan pengiriman dan hambatan produksi.

“Gangguan rantai pasok bisa mengurangi volume ekspor dan memperlambat arus barang. Ini akan terasa pada pelaku usaha logistik dan industri manufaktur,” tegasnya.

Tekanan Fiskal dan Nilai Tukar

Dari sisi fiskal, Arief memperingatkan bahwa negara importir energi seperti Indonesia akan menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal ini berpotensi menekan anggaran subsidi dan memperbesar beban belanja negara.

Selain itu, ketidakpastian global dapat memperlemah nilai tukar rupiah serta mengurangi arus investasi asing. Jika kondisi berlarut-larut, basis pajak jangka panjang juga berisiko tergerus.

“Pemerintah perlu menyiapkan APBN sebagai shock absorber melalui kebijakan fiskal yang adaptif, termasuk penyesuaian subsidi atau kebijakan perpajakan untuk menjaga daya beli masyarakat,” kata Arief.

Efek Tidak Langsung ke Ekspor

Meski perdagangan langsung Indonesia dengan Israel dan Iran relatif kecil, Arief menekankan bahwa efek tidak langsungnya tetap signifikan. Kenaikan biaya energi dan logistik akan membuat harga produk Indonesia lebih mahal di pasar internasional, sehingga daya saing bisa menurun dibandingkan negara pesaing yang lebih dekat dengan pasar tujuan.

Ia menegaskan bahwa eskalasi konflik berpotensi melampaui kawasan Timur Tengah dan berdampak sistemik pada perekonomian global.

Strategi Antisipatif

Untuk menghadapi situasi ini, Arief mendorong pemerintah dan pelaku usaha menyiapkan langkah antisipatif, antara lain kebijakan fiskal yang adaptif, diversifikasi pasar ekspor, serta strategi logistik yang lebih efisien dan fleksibel.

“Ketahanan ekonomi nasional harus diperkuat agar Indonesia tetap tangguh menghadapi ketidakpastian global,” pungkasnya.

Comment