Arief R. Pabettingi: Fungsi Kepelabuhanan Harus Jadi Motor Pertumbuhan Ekspor Sulsel

PHINISIMEDIA.COM, MAKASSAR — Peran sektor kepelabuhanan dinilai semakin strategis dalam mendorong pertumbuhan ekspor Sulawesi Selatan. Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Bidang Fiskal dan Kepabeanan, Arief R. Pabettingi, menegaskan bahwa optimalisasi fungsi pelabuhan, khususnya Makassar New Port (MNP), dapat menjadi motor penggerak perdagangan internasional dari kawasan timur Indonesia.

Menurut Arief, sejak lama Makassar dikenal sebagai jalur penting perdagangan rempah-rempah dunia. Pembangunan Makassar New Port menjadi langkah strategis untuk memperkuat kembali posisi tersebut sekaligus menjadikan Sulawesi Selatan sebagai hub logistik dan ekspor di Indonesia Timur.

“Pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai tempat bongkar muat barang, tetapi harus berkembang menjadi pusat logistik yang mampu mempercepat arus perdagangan internasional,” ujarnya.

Arief menjelaskan bahwa peningkatan kinerja pelabuhan akan berdampak langsung terhadap daya saing komoditas ekspor daerah. Sulawesi Selatan memiliki berbagai komoditas unggulan seperti rumput laut, kakao, cengkeh, merica, produk perikanan, hingga nikel dari sektor pertambangan yang permintaannya terus meningkat di pasar global.

Ia menambahkan, pelabuhan harus mampu menjadi penghubung utama antara produsen lokal dengan pasar internasional. Efisiensi layanan, kecepatan distribusi, serta integrasi sistem logistik menjadi faktor kunci yang menentukan peningkatan volume ekspor dari daerah.

Selain itu, pengembangan kawasan logistik terpadu di sekitar pelabuhan dinilai dapat mempercepat proses pengiriman barang dan menekan biaya distribusi sehingga produk-produk dari Sulsel lebih kompetitif di pasar global.

Arif memandang bahwa kapasitas Makassar New Port yang mampu menampung hingga 4 juta TEUs per tahun, menjadikannya salah satu pelabuhan tersibuk di luar Pulau Jawa. Infrastruktur pendukung seperti jalan tol menuju kawasan pelabuhan turut membantu mengurangi kemacetan logistik yang selama ini menjadi kendala bagi pelaku usaha.

“Dengan adanya konektivitas jalan tol, distribusi barang dari daerah menuju pelabuhan menjadi lebih cepat dan efisien. Hal ini tentu membantu pelaku usaha dalam mempercepat proses ekspor,” jelasnya.

Lebih lanjut, Arief menilai bahwa penguatan fungsi kepelabuhanan harus dibarengi dengan peningkatan infrastruktur, digitalisasi layanan, serta konektivitas dengan jaringan transportasi darat dan kawasan industri. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai pusat logistik dan ekspor di kawasan timur Indonesia.

“Jika sektor kepelabuhanan dimaksimalkan, maka volume dan nilai ekspor Sulawesi Selatan akan meningkat, sekaligus memperkuat posisi daerah ini dalam rantai perdagangan global,” katanya.

Ia menegaskan bahwa dengan dukungan infrastruktur pelabuhan yang semakin modern, Sulawesi Selatan memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pusat perdagangan internasional yang strategis di Indonesia Timur.

Comment