PHINISIMEDIA.COM, MAKASSAR – Jelang Musda Golkar Sulsel Januari 2026, suara Ketua DPD II kabupaten/kota dinilai menjadi kunci soliditas partai.
Karena itu, DPP Golkar diminta tidak mengesampingkan aspirasi kader di daerah.
Hal itu disampaikan pengamat politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr Andi Luhur Prianto, menanggapi dinamika internal Golkar Sulsel yang kian menghangat.
Menurut Andi Luhur, arus dukungan yang mengalir dari tingkat DPD II merupakan representasi nyata aspirasi kader di akar rumput.
Karena itu, DPP Golkar perlu mencermati dengan serius arah dukungan tersebut sebagai basis utama kekuatan partai di daerah.
“Dukungan dari akar rumput, khususnya Ketua DPD II kabupaten/kota, adalah kunci utama menjaga soliditas, kesinambungan, dan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan ke depan,” ujar Andi Luhur, Kamis (25/12/2025).
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Makassar itu menegaskan, meskipun mekanisme pengambilan keputusan di tubuh Partai Golkar bersifat sentralistik dan berada dalam ruang diskresi Ketua Umum, aspirasi dari daerah tetap memiliki nilai tawar politik yang kuat.
“Itu nilai tawar kader di akar rumput. Walaupun kita paham keputusan di Golkar bersifat sentralistik, aspirasi tersebut tetap harus dibawa dan diperhatikan secara serius oleh DPP,” tegasnya.
Ia menilai, Musda Golkar Sulsel 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bagi partai berlambang pohon beringin tersebut untuk menentukan arah kepemimpinan yang lebih inklusif dan responsif terhadap dinamika daerah. Golkar, kata dia, tidak boleh lagi membangun kekuatan politik semata-mata secara elitis.
“Golkar yang tidak politis justru adalah Golkar yang memperhatikan aspirasi dari bawah, terutama di lapisan kedua yang bersentuhan langsung dengan konsolidasi hingga ke tingkat desa,” jelasnya.
Andi Luhur juga menekankan pentingnya rekam jejak dan prestasi figur yang maju sebagai calon Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Pengalaman memimpin pemerintahan daerah atau keberhasilan meningkatkan perolehan suara dan kursi partai dinilai menjadi variabel penting dalam menentukan kepemimpinan ke depan.
“Basis kepemimpinan, pengalaman, dan prestasi pasti diperhitungkan. Ada variabel-variabel lain yang tidak bisa diabaikan,” katanya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa penentuan kepemimpinan Golkar Sulsel tidak boleh hanya melihat kondisi politik saat ini, tetapi juga harus mempertimbangkan tantangan dan agenda politik ke depan.
Menurutnya, peta persaingan partai politik akan terus berubah dengan munculnya partai baru, tokoh baru, dan kekuatan politik baru.
“Golkar tidak bisa melihat posisi sekarang saja. Kepemimpinan harus disiapkan untuk menghadapi arena persaingan politik ke depan yang semakin kompleks,” ujarnya.
Meski mengakui besarnya pengaruh elite DPP dan tokoh panutan di internal Golkar, Andi Luhur berharap partai tidak lagi mengulang pola lama yang terlalu bergantung pada diskresi elite semata.
Ia mendorong agar konsolidasi yang telah dibangun oleh kader di daerah menjadi salah satu pertimbangan utama DPP dalam menentukan arah kepemimpinan Golkar Sulsel.
“Siapa pun calon yang sudah membangun konsolidasi dengan DPD II, itu penting untuk diperhatikan dan dikembangkan sebagai arah dukungan DPP,” pungkasnya.
Menurut Andi Luhur, dinamika jelang Musda menjadi momentum krusial bagi Golkar Sulsel.
Keputusan yang diambil akan menentukan apakah partai berlambang beringin itu mampu kembali mengakar di masyarakat atau semakin tertinggal dalam kompetisi politik mendatang
Comment