Pelemahan Rupiah Jadi Alarm bagi Ketahanan Ekonomi Sulsel

Screenshot

Opini: Pedang Bermata Dua Rupiah bagi “Macan” Timur Indonesia

Oleh: Andi Januar Jaury Dharwis

Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia kembali menghadapi ujian serius akibat gejolak nilai tukar.

Rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis yang mengkhawatirkan, menembus kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per Dolar AS.

Bagi Jakarta, kondisi ini menjadi alarm kewaspadaan makroekonomi.

Namun bagi Sulawesi Selatan—yang selama ini dikenal sebagai motor penggerak ekonomi Indonesia Timur, pelemahan Rupiah bukan sekadar angka di layar bursa.

Fenomena ini adalah “pedang bermata dua” yang menguji ketangguhan sekaligus kerentanan struktur ekonomi daerah.

Resiliensi di Tengah Badai

Sulawesi Selatan (Sulsel) masuk dalam radar nasional sebagai salah satu daerah dengan daya tahan ekonomi yang cukup kuat.

Pertumbuhan ekonomi Sulsel yang mencapai 6,88 persen (year on year) pada awal 2026 menjadi indikator bahwa fondasi ekonomi berbasis sektor riil—pertanian, perikanan, dan komoditas—masih relatif kokoh dibanding daerah yang terlalu bertumpu pada sektor jasa keuangan atau manufaktur murni.

Struktur ekonomi seperti ini secara alami berfungsi sebagai shock absorber atau penyerap benturan. Saat Rupiah melemah, nilai komoditas ekspor unggulan Sulsel seperti kakao, kopi Toraja, cengkih, hingga nikel justru meningkat dalam denominasi Rupiah.

Para petani dan pelaku usaha komoditas di Luwu Raya, Bone, hingga Toraja, secara teoritis memperoleh keuntungan lebih besar dari hasil ekspor yang mereka jual ke pasar internasional. Dalam konteks tertentu, pelemahan Rupiah dapat menjadi berkah bagi sektor ekspor daerah.

Sisi Gelap: Logistik dan Inflasi Mengintai

Namun, Sulsel tidak boleh terjebak dalam euforia semu.

Di balik keuntungan yang dirasakan eksportir, terdapat ancaman nyata yang perlahan merambat ke sektor domestik.

Pertama, Sulsel merupakan pusat distribusi utama Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar menjadi jantung arus logistik kawasan. Ketika Rupiah melemah, biaya logistik nasional otomatis meningkat.

Suku cadang kapal, biaya operasional penerbangan, hingga harga BBM non-subsidi sangat bergantung pada kurs Dolar AS. Akibatnya, biaya distribusi barang ikut membengkak.

Kenaikan ini pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen akhir melalui harga kebutuhan pokok yang lebih mahal.

Kedua, ancaman terhadap ketahanan pangan juga perlu diwaspadai.

Meski Sulsel dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, sejumlah industri pendukung masih bergantung pada bahan baku impor.

Industri pakan ternak, misalnya, masih banyak menggunakan komponen impor.

Ketika harga Dolar naik, harga pakan ikut melonjak. Dampaknya akan terasa langsung pada harga telur, ayam, dan berbagai kebutuhan pangan lainnya di pasar tradisional.

Fenomena ini dikenal sebagai imported inflation, yakni inflasi yang dipicu kenaikan biaya impor akibat pelemahan nilai tukar.

Kondisi inilah yang paling berisiko memukul daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Tantangan ke Depan

Stabilitas ekonomi Sulsel saat ini tidak boleh membuat pemerintah daerah terlena. Situasi global yang tidak menentu menuntut navigasi kebijakan yang jauh lebih hati-hati dan adaptif.

Pemerintah daerah perlu mempercepat upaya penguatan rantai pasok lokal agar tidak terlalu bergantung pada komponen impor.

Diversifikasi bahan baku pakan ternak berbasis sumber daya lokal, misalnya, bukan lagi sekadar wacana akademik, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Selain itu, hilirisasi komoditas unggulan harus terus didorong. Sulsel tidak boleh hanya menikmati keuntungan dari fluktuasi kurs semata, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah melalui pengolahan produk yang lebih berkualitas dan berdaya saing tinggi.

PENUTUP

Sulawesi Selatan memang memiliki “imunitas” alami terhadap pelemahan Rupiah berkat kekuatan sektor ekspornya. Namun tanpa pengawasan ketat terhadap biaya logistik, inflasi, dan ketergantungan impor, keuntungan tersebut bisa dengan cepat tergerus oleh kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar domestik.

Pelemahan Rupiah menjadi pengingat bahwa di era globalisasi, tidak ada daerah yang benar-benar kebal terhadap gejolak ekonomi dunia.

Kekuatan ekonomi Sulsel saat ini adalah modal besar.

Namun, kewaspadaan terhadap dampak mikroekonomi tetap menjadi kunci agar “Macan” Timur Indonesia tetap mampu mengaum di tengah badai mata uang global.

Comment