Aktif di Media Sosial, Pasif di Ruang Diskusi

Oleh: Andi Tenri Abeng, Dosen Administrasi Pendidikan FIP UNM

Mahasiswa merupakan kelompok yang sangat dekat dengan media sosial. Hampir setiap hari mereka aktif membuat unggahan, memberikan komentar, membagikan pendapat, hingga menciptakan berbagai konten kreatif di berbagai platform digital.

Namun, terdapat fenomena menarik yang sering saya temukan di ruang perkuliahan. Mahasiswa yang sangat aktif di media sosial justru cenderung pasif ketika berada di ruang diskusi kelas. Saat dosen membuka sesi tanya jawab, hanya beberapa mahasiswa yang berani berbicara dan menyampaikan pendapat.

Fenomena ini tidak hanya terlihat di kelas. Dalam berbagai grup WhatsApp mahasiswa, sering kali terdapat mahasiswa yang sangat aktif berdiskusi melalui pesan teks. Mereka mampu memberikan tanggapan panjang, menyampaikan ide, bahkan mengkritisi suatu persoalan dengan baik.

Akan tetapi, ketika bertemu secara langsung, mahasiswa yang sama justru tampak kesulitan mengungkapkan pendapatnya. Mereka lebih memilih diam atau sekadar menjadi pendengar selama diskusi berlangsung.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi secara digital tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan berkomunikasi secara langsung. Media sosial memberikan ruang yang lebih nyaman karena seseorang memiliki waktu untuk menyusun kata-kata sebelum menyampaikannya.

Sebaliknya, diskusi tatap muka menuntut keberanian, spontanitas, dan kesiapan menghadapi respons dari orang lain. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa takut salah, takut ditertawakan, atau khawatir pendapatnya dianggap kurang tepat.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Konstruktivisme Sosial yang dikemukakan oleh Lev Vygotsky. Menurut Vygotsky, proses belajar tidak hanya terjadi melalui penerimaan informasi, tetapi juga melalui interaksi sosial dan dialog dengan orang lain. Pengetahuan dibangun ketika seseorang aktif berdiskusi, bertanya, menyampaikan pendapat, dan mempertukarkan gagasan. Dengan kata lain, ruang diskusi merupakan bagian penting dari proses pembelajaran itu sendiri.

Ketika mahasiswa lebih banyak berinteraksi melalui layar dibandingkan melalui komunikasi langsung, kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi interpersonal menjadi berkurang. Padahal, kemampuan menyampaikan gagasan secara lisan merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi.

Dari perspektif teori komunikasi interpersonal, komunikasi tatap muka memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan komunikasi berbasis teks. Dalam komunikasi langsung, seseorang harus mampu mengelola bahasa verbal, ekspresi wajah, kontak mata, intonasi suara, serta respons spontan terhadap lawan bicara. Keterampilan ini tidak dapat berkembang secara optimal jika mahasiswa hanya terbiasa berkomunikasi melalui media digital.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi dunia pendidikan tinggi. Diskusi kelas bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga sarana untuk membangun rasa percaya diri, kemampuan berargumentasi, kepemimpinan, serta keterampilan bekerja sama dengan orang lain. Kompetensi inilah yang nantinya dibutuhkan dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Ironisnya, banyak mahasiswa sebenarnya memiliki gagasan yang baik. Mereka mampu menulis dan menyampaikan pemikiran secara kritis di dunia digital, tetapi belum terbiasa menyuarakannya dalam ruang diskusi nyata. Akibatnya, potensi yang dimiliki sering kali tidak terlihat dan tidak berkembang secara optimal.

Karena itu, perguruan tinggi perlu menciptakan budaya kelas yang lebih partisipatif dan inklusif. Mahasiswa harus merasa bahwa ruang diskusi adalah tempat belajar, bukan ruang untuk menghakimi kesalahan. Dosen juga perlu memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa untuk berbicara, berpendapat, dan berlatih mengemukakan gagasannya.

Di sisi lain, mahasiswa perlu menyadari bahwa kemampuan berbicara tidak akan berkembang tanpa latihan. Keberanian menyampaikan pendapat harus dibangun melalui pengalaman dan pembiasaan. Media sosial memang memberikan ruang ekspresi yang luas, tetapi pendidikan tidak boleh berhenti pada komunikasi di balik layar. Masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang pandai mengetik, melainkan juga generasi yang mampu berbicara, berdialog, dan meyakinkan orang lain dengan gagasannya.

Comment