Pertama dalam Sejarah! Spanyol Paksa Argentina Gagal Lepaskan Satu Tembakan di Final Piala Dunia

Screenshot

PHINISIMEDIA.COM, MAKASSAR – Final Piala Dunia 2026 bukan hanya menghadirkan juara baru, tetapi juga melahirkan catatan sejarah yang belum pernah terjadi sepanjang penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Timnas Argentina mencatat rekor yang tidak diinginkan setelah gagal melepaskan satu pun tembakan sepanjang 90 menit waktu normal saat menghadapi Spanyol di partai final Piala Dunia 2026.

Pertandingan yang digelar di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB itu berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Spanyol.

Hasil tersebut memastikan La Furia Roja mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah, sekaligus menggagalkan ambisi Argentina mempertahankan gelar juara dunia.

Di balik kemenangan Spanyol, tersimpan fakta mencengangkan. Argentina menjadi tim pertama sepanjang sejarah final Piala Dunia yang tidak mampu melepaskan satu pun tembakan selama waktu normal berlangsung.

Rekor tersebut menjadi bukti nyata dominasi Spanyol sepanjang pertandingan.

Tim Matador tampil menekan sejak menit awal hingga peluit panjang dibunyikan.

Berdasarkan statistik pertandingan, Spanyol mencatatkan 20 percobaan tembakan.

Sebanyak 11 di antaranya tepat sasaran dan memaksa kiper Argentina bekerja keras di bawah mistar.

Sebaliknya, Argentina hanya membukukan tiga percobaan sepanjang pertandingan. Tidak satu pun mengarah ke gawang Spanyol sehingga kiper lawan praktis tidak mendapat ancaman berarti.

Dominasi Spanyol juga terlihat dari penguasaan bola. La Furia Roja mengendalikan pertandingan dengan menguasai bola hingga 68 persen, sedangkan Argentina hanya mampu menguasai permainan sebesar 32 persen.

Dalam distribusi bola, Spanyol membukukan 803 operan dengan tingkat akurasi mencapai 90 persen. Sementara Argentina hanya mencatatkan 445 operan dengan akurasi 78 persen.

Perbedaan kualitas permainan kedua tim terlihat jelas sepanjang laga.

Spanyol mampu membangun serangan dengan sabar melalui kombinasi umpan-umpan pendek, sedangkan Argentina lebih banyak bertahan dan kesulitan keluar dari tekanan.

Kapten Argentina, Lionel Messi, menjadi salah satu pemain yang paling merasakan ketatnya penjagaan lini belakang Spanyol.

Pemain berusia 39 tahun itu tidak mampu menunjukkan pengaruh besar seperti yang diperlihatkannya pada pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Sepanjang pertandingan, Messi tidak mencatatkan satu pun tembakan. Upaya terbaiknya hanya sebuah percobaan yang berhasil diblok pemain bertahan Spanyol sebelum mencapai gawang.

Statistik juga menunjukkan Messi hanya menyentuh bola sebanyak 54 kali selama pertandingan.

Menariknya, tidak ada satu pun sentuhan tersebut yang terjadi di dalam kotak penalti Spanyol.

Situasi itu memperlihatkan bagaimana lini pertahanan Spanyol berhasil memutus suplai bola kepada sang kapten Argentina.

Selain minim kontribusi di lini depan, Messi juga dua kali kehilangan bola.

Kontribusi bertahannya hanya tercatat melalui satu tekel sepanjang pertandingan.

Tidak hanya unggul dalam menyerang, Spanyol juga lebih efektif dalam memanfaatkan situasi bola mati. Mereka memperoleh sembilan tendangan sudut, sementara Argentina hanya mendapatkan empat sepak pojok.

Pertandingan berlangsung cukup keras. Argentina melakukan 24 pelanggaran, lebih banyak dibandingkan Spanyol yang mencatatkan 21 pelanggaran.

Akibat permainan keras tersebut, Argentina menerima lima kartu kuning dan satu kartu merah dari wasit.

Sebaliknya, Spanyol mampu menjaga ritme permainan tanpa kehilangan konsentrasi hingga akhir pertandingan.

Kemenangan ini sekaligus mengakhiri upaya Argentina mempertahankan gelar juara dunia yang diraih empat tahun sebelumnya.

Albiceleste juga gagal menyamai koleksi empat trofi Piala Dunia milik Jerman dan Italia.

Sementara bagi Spanyol, keberhasilan tersebut menjadi penegasan bahwa mereka tampil sebagai tim paling dominan sepanjang turnamen.

Tak hanya mengangkat trofi juara dunia, La Furia Roja juga menorehkan sejarah baru dengan membuat Argentina mencatat rekor yang belum pernah terjadi dalam final Piala Dunia selama hampir satu abad penyelenggaraannya.

Comment