Alumni Unhas Incar Kursi Kampus Oranye, Kehadiran Prof Aslinda Daftar Calon Rektor UNM Dipicu Gelombang Penolakan

PHINISIMEDIA.COM, MAKASSAR – Langkah Profesor Dr Hj Andi Aslinda MSi memburu posisi puncak pimpinan di Universitas Negeri Makassar (UNM) langsung memantik riak di internal kampus.

Sorotan tajam mengiringi pendaftaran Wakil Rektor I UNM tersebut usai menyerahkan berkas administrasi di Sekretariat Panitia, Lantai 14 Menara Pinisi UNM, Senin (28/9/2026) kemarin.

Penyerahan dokumen oleh kandidat pendaftar ketiga ini seketika diwarnai isu hangat terkait status latar belakang almamaternya.

Prof Andi Aslinda merupakan alumnus murni Universitas Hasanuddin (Unhas) mulai dari jenjang Sarjana Ilmu Pemerintahan, Magister Administrasi Pembangunan, hingga Doktor Ilmu Administrasi Publik.

Gaya manuver akademisi berlatar Unhas yang berniat menguasai Puncak Menara Pinisi tersebut dinilai memicu gelombang perlawanan dari kalangan internal yang menginginkan kepemimpinan kader asli kampus oranye.

Munculnya narasi penolakan figur non-alumnus membuat atmosfer kontestasi perebutan kursi pimpinan tertinggi universitas kian memanas.

Merespons gelombang dorongan agar kepemimpinan UNM tetap dipegang alumnus murni, Prof Andi Aslinda berdalih bahwa narasi sentimen almamater tidak lagi relevan dengan era perguruan tinggi modern.

Ia memilih mengalihkan sudut pandang kritik publik tersebut dengan menjual narasi visi World Class University.

“Seperti tadi yang saya sudah sampaikan, bahwa visi saya adalah berdaya saing global. Ya, jadi namanya berdaya saing global itu bukan artinya hanya lokal, kita sudah mau menuju globalisasi,” tutur Prof Andi Aslinda.

Lulusan Unhas ini berupaya meredam arus kritik dengan menjanjikan pengabdian penuh bagi pengembangan civitas akademika UNM.

“Insyaallah saya akan mewakafkan tenaga dan pikiran saya, dan ikhtiar baik saya untuk Universitas Negeri Makassar,” ucapnya saat memberi keterangan usai pendaftaran.

Meski mencoba tampil optimistis, sorotan publik mengenai potensi konflik kepentingan dan minimnya keterikatan emosional dengan sejarah perjuangan kampus oranye tetap memayungi langkah politik akademisnya.

Upaya pasang badan juga dilakukan Ketua Tim Pemenangan, Prof Dr Muh Daud, untuk menangkis derasnya sentimen negatif internal against calonnya.

“Jadi dikotomi alumni dan non-alumni seharusnya tidak berlaku lagi, kampus-kampus yang maju dan berkembang pesat tidak harus dipimpin oleh alumnus,” benteng Prof Muh Daud.

Namun demikian, pembelaan tersebut dinilai sejumlah pihak belum sepenuhnya mampu meredam gelombang resistensi yang menuntut transparansi arah kepemimpinan UNM ke depan.

Panitia Pemilihan Rektor UNM sendiri masih terus membuka pendaftaran fisik bagi figur bakal calon lain hingga batas akhir penutupan pada 9 Oktober 2026 mendatang.

Comment