PHINISIMEDIA.COM, LABUAN BAJO – Ribuan penduduk di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa memfungsikan tempat penampungan sementara sebagai lokasi mengungsi setelah gempa bumi hebat mengguncang kawasan tersebut.
Laporan awal dari pemerintah setempat mencatat sedikitnya 3.839 jiwa kini berada di posko-posko pengungsian demi mengamankan diri dari risiko bahaya lanjutan.
Kepastian angka tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penanganan Gempa Flores yang dipimpin oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (16/8).
Gubernur NTT Melki Laka Lena menegaskan bahwa jumlah ribuan warga yang mengungsi ini masih bersifat sementara dan berpotensi berubah seiring penyesuaian lapangan.
“Seluruh warga terdampak yang terdata sementara ini bertatus sebagai pengungsi. Proses verifikasi masih terus kami pacu agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan mendesak di setiap titik,” ujar Melki.
Guncangan gempa tak hanya memicu gelombang pengungsian, tetapi juga melumpuhkan berbagai sektor fisik.
Catatan sementara menunjukkan kerusakan permukiman warga mencakup 159 unit rumah rusak berat, 47 unit rusak sedang, dan 167 unit rusak ringan.
Kerusakan fasilitas umum pun terhitung massif, di antaranya menimpa 211 fasilitas kesehatan, 36 sarana pendidikan, 11 fasilitas publik, 5 tempat ibadah, serta 6 area perkantoran.
Melihat kondisi darurat tersebut, Melki mendorong pemerintah pusat untuk memberi perhatian ekstra pada pemulihan tiga sektor krusial: pasokan listrik, jaringan telekomunikasi, dan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Ketiga elemen pendukung tersebut dinilai menjadi kunci utama untuk memperlancar pergerakan tim evakuasi, mempermudah distribusi logistik, serta menjamin komunikasi antarwilayah terdampak tetap terhubung selama masa kritis penanganan pascabencana.
Comment