PHINISIMEDIA.COM, MAKASSAR – Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Negeri Makassar (UNM) bersama Universitas Fajar (Unifa) sukses mentransformasi Kelompok Payabo Recycle dari pemilah sampah biasa menjadi produsen eco-fashion bernilai tinggi.
Langkah ini mendapat dukungan pendanaan penuh dari Kemdiktisaintek RI melalui Program BIMA 2026.
Kelompok yang beranggotakan 12 orang di Jalan Asrama Haji, Sudiang, Kota Makassar ini sebelumnya mengolah limbah plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE) dan Polypropylene (PP) secara manual menggunakan tungku LPG.
Metode lama tersebut kerap menghasilkan cacat produk dan membatasi skala produksi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim akademisi menyerahkan bantuan alih teknologi berupa Mesin Injeksi Pneumatik Semi-Otomatis yang dilengkapi sistem kontrol suhu digital Proportional-Integral-Derivative (PID).
Ketua Tim Pelaksana, Fauziah, menjelaskan bahwa inovasi mesin ini dirancang agar mitra dapat mengolah limbah plastik menjadi produk berukuran presisi dan bernilai tinggi seperti bingkai kacamata serta aksesori jam tangan.
“Teknologi ini kami kembangkan bukan hanya untuk menghadirkan mesin, tetapi juga membantu mitra meningkatkan kemampuan produksi, mengembangkan produk baru, dan mengelola proses secara mandiri,” ujar Fauziah, dosen Prodi Rekayasa Industri UNM, Rabu (19/8/2026).
Kami ingin membuktikan bahwa sampah plastik dapat dikembalikan ke siklus produksi menjadi barang yang berdaya saing ekonomi,” tambahnya.
Tingkatkan Nilai Ekonomi dan Jangkauan Pasar
Peralihan dari produk berukuran besar seperti furnitur ke produk eco-fashion yang lebih ringkas memberikan keuntungan logistik yang signifikan bagi Kelompok Payabo Recycle.
Selain memangkas biaya pengiriman, produk baru ini memudahkan mitra menembus pasar digital melalui platform e-commerce dan media sosial.
Selain alih teknologi, tim pengabdi yang beranggotakan Ir Muh Bhilal Halim dari UNM dan Dr Muhammad Yusuf Ali dari Unifa turut memberikan pendampingan terpadu.
Pendampingan tersebut meliputi aspek teknis seperti pengoperasian dan perawatan mesin, penyusunan SOP produksi, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Sementara pada aspek bisnis, tim membekali mitra dengan pengendalian mutu, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pencatatan stok, hingga strategi branding.
Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan tidak hanya mendorong kemandirian ekonomi kelompok pemilah sampah.
Namun juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui prinsip ekonomi sirkular.
Comment